Selasa, 18 April 2017

Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Image result for fire extinguisher animation

APAR merupakan alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada mula terjadi kebakaran. (Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No : PER.04/MEN/1980 Tentang Syarat-Syarat Pemasangan  dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan). APAR juga dideskripsikan sebagai tabung berisi media yang efektif untuk memadamkan api sesuai dengan bahan yang terbakar yang ringan dijinjing atau mudah dibawa oleh satu orang, dan memiliki ukuran 0,5 kg sampi 16 kg. APAR merupakan perlengkapan penting dalam mengatasi kebakaran dengan api kecil yang berkisar dari 3-10 menit kebakaran ringan, namun jika terjadi ledakan atau api sudah tidak bisa dikontrol, sebaiknya segera meminta bantuan untuk pemadaman dengan peralatan untuk skala kebakaran lebih besar dan memanggil petugas PMK setempat.

Image result for bagian apar

Bagian - bagian pada APAR antara lain :
  1. Body (Tabung) : Bagian yang paling dominan yang berisi media pemadaman dan sistematika gas untuk menekan saat akan menyemprotkan media.
  2. Label : Label biasanya berada pada bagian luar body/tabung, yang berupa stiker dengan banyak informasi tentang merk, ukuran, media isi APAR, cara pemakaian APAR, dan lain-lain.
  3. Carryying Handle : Handle untuk mengangkat dan memindah APAR
  4. Lever (Tuas) : Bagian atas dari carryying handle yang digunakan untuk memompa/menyemprotkan isi APAR, biasanya ditahan oleh Safety Pin, agar tidak tertekan saat belum perlu digunakan.
  5. Safety Pin : Segel yang berupa pin panjang untuk menahan tuas tertekan selama belum perlu digunakan.
  6. Pressure Gauge : Indikator yang menyatakan tekanan gas di dalam tabung apakah normal, overcharge atau undercharge. Ketika jarum menunjukkan undercharge maka perlu segera dilakukan isi ulang atau perbaikan agar dapat digunakan secara normal saat keaaan darurat.
  7. Hose (Selang) : Selang yang digunakan untuk mengarahkan penyemprotan media isi APAR dengan tepat. 
  8. Nozzle : Corong yang mengatur titik hambur keluarnya media isi APAR.


Teori Api dan Kebakaran

Sebelum membahas APAR yang lebih jauh, harus diketahui mengenai teori terjadinya api dan kebakaran. Api adalah hasil  rekasi oksidasi cepat terhadap suatu material dalam proses pembakaran kimiawi, yang menghasilkan panascahaya, dan berbagai hasil reaksi kimia lainnya (Wikipedia). Teori terjadinya api, atau sering dikenal sebagai teori segitiga api, adalah gambaran reksi terjadinya api antara 3 unsur pembentuk api, yaitu bahan bakar, suhu panas, dan oksigen. 

Image result for segitiga api

Dalam penentuan media pemadaman yang efektif pada APAR, harus diketahui klasifikasi kebakaran berdasarkan bahan yang terbakar, yang banyak dibahas pada Klasifikasi Kebakaran. Klasifikasi kebakaran secara singkat antara lain :
  1. Golongan A : Kebakaran pada bahan padat kecuali logam
  2. Golongan B : Kebakaran pada bahan cair atau gas yang mudah terbakar
  3. Golongan C : Kebakaran pada peralatan yang teraliri arus listrik bertegangan
  4. Golongan D : Kebakaran pada bahan logam
  5. Golongan E : Kebakaran pada bahan radioaktif
  6. Golongan K : Kebakaran pada lemak dan minyak goreng
Jenis-jenis APAR
Jenis-jenis APAR diklasifikan berdasarkan media isinya, yaitu antara lain:

1. Air (H2O)
  • Metodenya adalah dengan mendinginkan, sehingga menurunkan suhu dan menyerap panas.
  • Baik digunakan untuk Kebakaran golongan A.
  • Bahaya apabila digunakan untuk Kebakaran golongan B,C,D karena sifat air adalah menghantarkan listrik.
  • Harganya murah, media mudah didapat.
2. Chemical Powder
  • Ada 3 tipe, reguler (untuk Kebakaran B & C), multipurpose (A,B,C), dan Special Dry Powder (D).
  • Prinsip pemadamannya adalah dengan isolasi meutup api dan memutuskan aliran Oksigen serta menyerap panas.
  • Kelebihannya adalah tidak berbahaya, bukan penghantar listrik, murah dan dapat digunakan untuk banyak jenis kebakaran.
  • Kelemahannya adalah debu yang dapat mengganggu pernafasan dan penglihatan serta meninggalkan bekas kotoran serbuk.
3. Karbondioksida (CO2)
  • Cocok untuk digunakan pada listrik dan mesin dan kebakaran golongan B dan C.
  • Prinsip kerjanya adalah dalam tabung dengan temperatur rendah berupa cairan ketika disemprotkan mengembang menjadi gas.
  • Kelebihannya adalah tidak menghantarkan listrik, dapat digunakan berulang kali setelah dipakai, dan tidak menimbulkan kotoran sisa.
  • Kekurangannya adalah gas CO2 berbahaya untuk pernafasan dan harganya yang sangat mahal.
4. Busa (Foam)
  • Prinsip kerjanya adalah dengan menutup akses O2 dan mendinginkan temperature.
  • Efektif untuk kebakaran golongan A & B.
  • Kelebihannya adalah efektif untuk kebakaran benda cair, karena foam yang mempunyai berat jenis rendah akan naik ke atas dan menutup bahan cair untuk bereaksi dengan oksigen, serta cocok untuk rute evakuasi karena tidak mengganggu penglihatan karena tidak melayang-layang terkena udara seperti powder.
  • Kekurangannya adalah dapat menghantarkan listrik sehingga tidak cocok untuk kebakaran golongan B, serta meninggalkan noda di area sekitar.
5. Gas Halon (penggantinya)
  • Sangat berguna, cocok untuk di pergunakan pada sebagian besar jenis alat kebakaran, termasuk kebakaran yang melibatkan berbagai macam peralatan listrik dan peralatan komputer. Alat pemadam portable yang berisi media gas halon tidak di perbolehkan untuk di produksi sejak tahun 2003 sesuai ketetapan Peraturan dari Kementrian Perindustrian No.: 33/M-IND/PER/4/2007, untuk larangan Memproduksi Bahan yang merusak Lapisan Ozon Serta Memproduksi Barang yang Menggunakan Bahan yang dapat Merusak Lapisan Ozon. Karena sifat gasnya yang merusak lapisan ozon, namun masih banyak yang cenderung memakainya di berbagai macam sektor bisnis dan di sektor publik.
  • Penggantinya adalah NAF, Halotron, AF-11. Lebih lengkap dapat dibaca di : http://www.alat-pemadam.org/2014/12/isi-tabung-clean-agent-halon-free.html.
Pemasangan dan Pemeliharaan APAR

Dalam pemasangan APAR berikut ini adalah hal-hal yang perlu diketahui, antara lain :
  • Ditempatkan di tempat yang mudah dilihat, dicapai, dan diambil
  • Jarak antar APAR di suatu unit yang memiliki potensi kebakaran adalah kurang dari atau sama dengan 15 meter
  • Tabung sebaiknya diwarnai merah, agar mudah dikenali dan terlihat jelas.
  • Pemasangan dan penempatan harus sesuai dengan jenis potensi kebakaran.
  • Alat pemadam api ringan tidak boleh dipasang dalam ruangan atau tempat dimana suhu melebihi 49°C atau turun sampai minus 44°C kecuali apabila alat pemadam api ringan tersebut dibuat khusus untuk suhu diluar batas tersebut.
  • Pemasangan alat pemadam api ringan bagian paling atas (puncaknya) harus berada pada ketinggian 1,2 m dari permukaan lantai kecuali jenis CO2 dan tepung kering (dry chemical) dapat ditempatkan lebih rendah dengan syarat, jarak antara dasar alat pemadam api ringan tidak kurang 15 cm dan permukaan lantai.
Cara Penggunaan APAR :
Image result for cara penggunaan apar
1. Cabut/Tarik Pin
2. Arahkan pada api, ambil jarab 2-3 meter berbanding terbalik dari arah api/angin.
3. Tekan tuas dan semprotkan di bagian api yang merambat
4. Ratakan sampai pada pusat api.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara Mengajukan Klaim JKK BPJS Ketenagakerjaan

JKK merupakan singkatan dari Jaminan Kecelakaan Kerja, sebuah program yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan untuk memberikan perlindungan at...